Pelayanan Buruk, FORJA Banten Ancam Gelar Aksi Unjuk Rasa Di BPS Pandeglang
Pandeglang Kabarpusat– Audiensi yang digelar Forum Jurnalis Aktivis Banten (FORJA Banten) dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pandeglang pada Selasa, 23 Juni 2026, berlangsung tegang dan berakhir kisruh. Penyampaian aspirasi secara tertutup yang digelar di ruang kantor BPS Kabupaten Pandeglang tersebut awalnya bertujuan sebagai upaya untuk mendapatkan klarifikasi terkait sejumlah temuan hasil investigasi dalam proses rekrutmen mitra statistik tahun 2026 yang dilakukan tim FORJA Banten.
Dalam audiensi tersebut, Ketua Umum FORJA Banten, Niki Mulyana, menyampaikan sejumlah pertanyaan kepada Kepala BPS Kabupaten Pandeglang terkait proses rekrutmen mitra statistik di BPS Pandeglang tahun 2026 yang menurut FORJA Banten perlu mendapatkan penjelasan secara terbuka dan transparan.
Menurut Niki Mulyana, jawaban yang disampaikan oleh pihak BPS dinilai tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ditemukan oleh tim FORJA Banten saat melakukan investigasi di lapangan. Perbedaan pandangan tersebut kemudian memicu ketegangan dalam jalannya audiensi.
“Tujuan kami datang ke sini adalah untuk meminta penjelasan secara objektif berdasarkan fakta dan data yang kami temukan di lapangan. Namun sangat disayangkan, jawaban yang disampaikan oleh pihak BPS menurut kami tidak menjawab substansi pertanyaan yang kami sampaikan. Bahkan ada beberapa penjelasan yang kami nilai tidak sesuai dengan hasil investigasi yang telah dilakukan oleh tim FORJA Banten,” ujar Niki Mulyana kepada awak media usai audiensi.
Lebih lanjut, Niki menegaskan bahwa FORJA Banten hadir sebagai bagian dari kontrol sosial yang memiliki tanggung jawab untuk mengawal keterbukaan informasi publik. Menurutnya, setiap lembaga pemerintah harus mampu memberikan penjelasan yang jelas, lugas, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
“Kami datang bukan untuk mencari kesalahan siapa pun. Kami hadir sebagai kontrol sosial dan ingin mendapatkan penjelasan yang benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Jika jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan fakta di lapangan, tentu kami berhak mempertanyakan dan meminta klarifikasi lebih lanjut,” tegasnya.
Suasana audiensi yang awalnya berlangsung kondusif kemudian berubah menjadi tegang setelah terjadi perdebatan antara peserta audiensi dengan pihak BPS. Ketidaksesuaian pandangan mengenai sejumlah poin yang dibahas membuat forum berlangsung alot hingga akhirnya audiensi tersebut berakhir tanpa adanya kesepahaman.
Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal FORJA Banten, Cecep, mengaku kecewa terhadap jalannya audiensi. Menurutnya, pihak BPS dinilai terlalu bertele-tele dalam memberikan penjelasan sehingga pembahasan tidak fokus pada inti persoalan yang dipertanyakan.
“BPS Pandeglang ini sangat eklusif, kebiasaan lama yang buruk di lembaga ini kian membatu dan sulit bagi kalangan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang memadai. Kami mempertanyakan terkait proses rekrutmen mitra Statistik yang di duga kuat banyak kejanggalan, tidak transparan, sarat dengan titipan kelompok tertentu, kedekatan dan like dislike.
Cecep menambahkan bahwa FORJA Banten akan terus mengawal persoalan rekrutmen mitra statistik tersebut dan tidak akan berhenti hanya pada forum audiensi.
Lebih lanjut, Cecep menyatakan bahwa FORJA Banten berencana menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor BPS Kabupaten Pandeglang sebagai bentuk penyampaian aspirasi dan kekecewaan terhadap hasil audiensi yang ngambang dalam persoalan rekrutmen mitra statisti,” tegas Cecep. (Red)
